Antara Astana Giri Bangun dan Kuburan Baqi

11.00 waktu itu

Di depan kotak hitam

Terkisah seorang besar pergi

 

Ratusan bahkan ribuan

pasang mata khidmat menyaksikan

Prosesi-prosesi seremoni

Dikumandangkan ke penjuru negeri

Ngiangnya tersangkut di Astana Giri bangun

 

Yah, seorang besar telah pergi

Sebelum pergi tidak lupa membangunkan keluarga sendiri

Padepokan abadi

Nan megah, aman dan nyaman diziarahi

 

12.30 waktu itu

Setelah memenuhi waktu fardhu

Masih di depan kotak hitam

 

Aku teringat kuburan baqi

Ratusan ribuan mungkin

Jasad manusia tertidur tenang

Tanpa kubah tanpa nisan

Terhampar di padang gersang di sekitar bukit yang yang tak terlalu tinggi

Tak ada harum melati

Apalagi ditembok marmer itali

Bentuknya mirip kreasi petani

Jika sudah lama terabrasi sendiri

Hanya amalan setia menanti

Kelak hari pembalasan nanti

 

Kuburan seperti daun pintu

Daun pintu bubu untuk perangkap ikan

Kedudukan tidak ditanya

Harta tiada berguna

Popularitas tinggal belaka

Kemolekan hanya hidangan sedap serdadu serangga

 

Pertanyaannya sulit dirumuskan ilmuwan

Bahkan tidak seperti teka-teki silang

Dan tidak diijinkan mengambil ujian her

 

Air bermuara ke air

Angin bergumpal ke udara

Tanah kembali ke tanah

 

Diterbitkan di: on Februari 15, 2008 at 10:06 am Tinggalkan sebuah Komentar