Mungkin ini terasa sedikit naïf, karena saya termasuk salah satu penduduk dari negeri 1001 motor yang ingin baik dan mendingan. Tapi saya terpanggil untuk sedikit meluaskan polemik yang saya tangkap, mudah-mudahan berguna buat saya dan orang banyak.
Kilas balik film tahun 80 an yang berjudul Ali Topan anak jalanan, dengan gagah dan nyaman si Ali bebas menunggang si kuda besinya di kota kelahirannya. Tapi mungkin sekarang ibunya si Ali tidak akan bebas mengijinkan anaknya untuk berkendara secara bebas dikarenakan lalu lintas jalan yang kian semrawut, banyak paku-paku yang siap mencium ban motornya, dan masih banyak lagi alasan bagi ibunya si Ali untuk sedikit melarang anaknya.
Apa akar masalahnya? Siapa yang menciptakan masalahnya? Apa dampaknya ? lantas bagaimana solusinya ?
Pada awal tahun 90 an siapa pun yang hendak memiliki motor, mereka harus membeli dengan cara kontan. Dengan begitu hanya sedikit orang yang mampu memiliki motor, dikarenakan harganya masih terbilang mahal. Sejak kerusuhan 1998 terjadi, ekonomi Indonesia sangat goyang, banyak pengangguran karena dunia usaha pada gulung tikar. Para pencuri dan investor pada hijrah ke negeri lain. Dan inilah muqaddimah sebuah negeri yang harus menjamin periuk rakyatnya, bala bantuan pun datang dengan bertopeng hibah. Perlahan-lahan negeri ini menyambut rasa simpati dari luar negeri tapi harus dibayar mahal dengan hitam diatas putih yang notabene hanya keuntungan sesaat. Saat itulah nyali negeri ini seperti ular kekenyangan karena banyak makan hutang-hutang.
Tentu saja kita tak boleh menyalahkan garisan tangan, sebab tangan siapa yang mau di garis ? garisnya seperti apa ? kita tidak tahu. Tapi kebijakan para petinggi lah yang harus memikirkan nasib periuk rakyatnya. Jangan mau di imla’kan oleh pemberi-pemberi hibah, tegakkan kepala meskipun di tampar dengan bergepok-gepok dollar.
Memang dilema ketika pengangguran begitu melimpah seperti panen cabe yang tak terkendali. Sedangkan denyut kehidupan harus terus berdetak, si udin harus terus bersekolah meskipun bapaknya baru saja di PHK, mbo minah tak tahu bagaimana lagi harus berjualan jamu karena banyak orang mencari nasi bukan jamu. Dengan mendapat angin sejuk berupa hibah melimpah maka si pemberi hibah leluasa mendirikan dan memproduksi motor dengan tiada henti. Yah mata air untuk mata pencaharian, banyak mendulang untung dari banyak berdirinya pabrik. Mulai dari tambal ban, bengkel motor, tukang pijat ( specialist ortopedi ), penjaja sarung tangan dan masker, sampai cucian motor. Namun yang mengeluh juga tidak tinggal diam dari sopir angkutan, penumpang angkot, rakyat banyak dikarenakan minyak mentah hasil pengeboran banyak di alokasikan ke Bensin dan Solar bukan untuk ngebul dapurnya ibu-ibu rumah tangga.
Juga menimbulkan dampak sosial yang tidak kalah hebat, banyak dari sesama pengguna motor tertentu membentuk paguyuban-paguyuban. Mereka dengan bangga memakai atribut paguyubannya dan melakukan kirab-kirab di jalan dengan mengatasnamakan “touring” atau melakukan bakti sosial. Mendekati lebaran, banyak para pemudik akan padat merayap memadati ruas jalan. Nah dampaknya para pengengemudi dengan sendirinya akan menaikkan tarif angkutan karena mereka akan kekurangan kehilangan setoran disebabkan macet di jalan.
Jadi siapapun yang memimpin negeri 1001 motor ini, tak ada rumusan lagi, harus berani berkata tidak kepada pada pemberi hibah, jangan berteori dan beretorika tentang angkutan massal dan lain sebagainya sementara tiap tahun di JCC pameran kendaraan bermotor selalu sesak dipenuhi pengunjung dan dealer-dealer merayu dengan diskon-diskonnya.
Kita berharap sebagai rakyat Negeri 1001 motor, tidak ada lagi penambahan jumlah kendaraan, karena jika kita tetap mengkonsumsi godaan-godaan dari produsen motor berarti kita telah korupsi terhadap generasi yang akan datang, disebabkan kekurang pedulian terhadap mereka. Mereka tidak bisa lagi menghirup udara segar, bermain sepeda, sampai-sampai orang tuanya khawatir anaknya bermain di jalan karena takut jadi korban kecelakaan