Industrialisasi Agama

Setelah perang dunia kedua, negara-negara sekutu berlomba untuk membangun negaranya mulai dari Inggris dengan Revolusi Industrinya dan diikuti oleh perancis dan lain-lain. Mereka mulai giat merancang cikal bakal teknologi transportasi, teknologi industri, teknologi perang. Sampai merambah ke industri sepakbola ( seperti liga-liga eropa, sampai piala dunia ), industri hiburan, industri automotive hingga industri teknologi informasi dan komunikasi yang semuanya di kemas untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

 

Jika di belahan dunia barat mereka berlomba membangun industri berdasarkan pengetahuan, lucunya di Indonesia malah merambah ke industri agama. Mengapa industri agama? Tanyakan kepada para pelaku yang bermain di dalamnya sehingga menjadi industri. Bisa dilihat secara seksama stasiun TV berlomba menyiarkan acara yang dibungkus dengan agama, seperti pildacil yang menurut kacamata saya ( kacamata saya gak bisa ngomong ) bahwa anak tersebut telah kehilangan masa bahagianya dan akan menjadi anak karbitan tapi di lain sisi para operator telepon seluler meraup keuntungan dari pulsa-pulsa begitu juga stasiun TV yang mendapatkan fee dari iklan yang ditayangkan apalagi jika acara tersebut mendapat rating yang bagus, ada juga yang menayangkan sinetron lepas dengan judul bermacam-macam mengerikan dan menyenangkan yang sepertinya tidak layak dikonsumsi.

 

Lain lagi di dunia pendidikan, begitu banyak sekolah berlabel agama yang hanya menampung orang berharta saja. Apakah agama membedakan antara orang berharta dengan orang tidak punya? Tidak semua orang pintar dilahirkan dari orang kaya, dan tidak semua orang kaya itu pintar, jadi jika sekolah yang berfasilitas mendukung dapat menampung semua kalangan maka tidak dipungkiri bahwa akan tercipta generasi berprestasi.

 

Para politikus juga tidak ingin ketinggalan, mereka memakai topeng agama untuk mendapat suara dan tahta. Atribut agama dan dalil-dalil rela ditempuh bahkan jika harus berkoalisi dengan yang bertentangan dengan agama. Tapi apakah dengan mempolitikkan agama akan jadi penguasa?

 

Seorang tokoh agama pun akan bernilai sangat mahal jika ia sering diliput dalam media elektronik dan cetak apalagi jika masuk acara infotainment yang akan membuat kita bingung mana tokoh agama jadi artis atau artis jadi tokoh agama. Jadi jangan berharap akan datang ke kampung kumuh, desa tertinggal atau lorong-lorong gelap dengan bayaran yang minim atau gratis, meskipun gratis pasti akan diliput oleh kamera-kamera.

 

Haruskah kita komersilkan sesuatu atas nama agama? Atau mengidustrikan agama ? sehingga dengan agama kita dapat mendapatkan keuntungan harta, tahta, popularitas yang menarik syahwat-syahwat dunia.

 

Beribu-ribu maaf atas tulisan ini bukan maksud untuk menjatuhkan industri-industri agama yang sudah berkembang atau karena saya tidak mempunyai industri agama, namun akan lebih arif jika kita mengagamakan industri bukan mengindustrikan agama.

  

Diterbitkan di: on Juni 21, 2007 at 4:31 am Tinggalkan sebuah Komentar

Kaki-Kaki Hitam Putih

Kali kedua

Kakiku tertabrak waktu tersisa yang ter sia-sia

Duduk termangu tanpa menahan dagu

Sambil melepas  rasa ngilu

Berapa banyak nikmat yang tergadai dengan syahwat

Berapa lama waktu terbius memburu nafsu

Kali kedua

Kakiku mendarat mulus dari bebek besi

Mengelus halus aspal hitam

Tanpa menuduh status pekerjaan

Yah seharusnya berfungsi

Sebagaimana susunan anatomi

Berlutut

Bersujud

Itu yang lebih patut

Ikhlasku menyelimuti jiwa

Jika Kau ambil apa yang Kau titipkan

Tidak hanya kakiku, bahkan seluruh panca indera

Tentu kubiarkan

Barangkali

Ketiga kali

Keempat kali

Berkali-kali

Langkah kakiku tertatih-tatih

Meniti jalan tiada henti tiada letih

Diterbitkan di: on Juni 14, 2007 at 8:47 am Tinggalkan sebuah Komentar

Pasar

Tempat bertemunya antara pembeli dan penjual, untuk melakukan serangkaian akad jual beli yang disepakati diantara keduanya. Ada barang atau  jasa yang dijual atau dibeli dan seiring pergeseran zaman pembayaran pun dapat juga di cicil atau menggunakan kartu kredit ( hutang ) jadi banyak orang sekarang sukses dengan membawa barang belanjaan yang diperoleh dengan hutang, boleh dibilang orang sukses berhutang dan sudah menjadi gaya hidup orang yang memaksa untuk hidup dengan segala keterbatasan yang dimiliki, bahkan dengan adanya e commerce, pembeli dan penjual hanya bertemu di dunia maya. Padahal dahulu dan sampai saat ini ditempat-tempat tertentu pembayaran yang diterima oleh penjual dapat berupa barang juga atau jasa. Penjual baju mendapat beras, penjual beras mendapat lauk-pauk, penjual lauk-pauk mendapat barang elektronik, penjual barang elektronik mendapat uang dan hanya penjual “diri” saja yang dapat memperoleh semuanya 

Di Indonesia nama pasar sangat unik yang diambil dari nama hari mulai dari pasar senen, pasar rebo, pasar kemis, pasar minggu, pasar jum’at yang belum saya dengar mungkin pasar selasa dan pasar sabtu ( pamali kali hehehe ), di tanah jawa pun ada pasar pon, pasar legi, pasar kliwon dan lain-lain, biasanya pasar tersebut memiliki sejarah atau khusus di gelar pada waktu-waktu tertentu saja begitu juga komoditas yang di pasarkan. 

Mulai pada tahun 80 akhir dan 90 awal mulai berdiri Matahari, Sogo, Hero, Ramayana, Robinson ( untungnya bukan rahwana atau robinhood ) sampai Indomaret dan Alfamart.

Tidak kalah hebatnya sekarang bagai jamur yang tumbuh subur di badan si fulan/fulanah raksasa  pasar yang dikemas seperti Carrefour, Plaza, Mall mulai memanjakan dan menggoda kita untuk memiliki produk atau sekedar cuci mata dan juga dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk mneyelenggarakan acara Talk Show dengan artis terkenal atau Festival musik dengan group band yang terkenal. 

Pergeseran gaya hidup menjadi alasan, yah mana mungkin Talk Show, Festival musik atau peragaan busana digelar di pasar induk seperti pasar kramat jati atau pasar cakung dekat rumah saya, mereka yang menghuni lapak-lapak dan kios sederhana mungkin hanya terdengar alunan senandung Meggy Z paling banter rhoma irama , tidak ada balkon atau tempat bermain anak-anak kecil, yang ada adalah jalan setapak dihiasi ceceran cabe busuk, bawang merah dan aroma amis ikan serta anyirnya daging yang menusuk dan menyumbat hidung. 

Lebih ironisnya warung bu darso, warung bu ipin dan warung ucok mulai merancang strategi marketing yang jitu karena Alfamart dan Indomaret misalnya, sudah mengepakkan sayapnya sampai tingkat RW. Tapi jangan salah, pak RW juga akan mendapat devisa bagi anggaran belanja RW nya untuk kemajuan RW nya juga (katanya), begitu pula walikota, gubernur pokoke semua aparat pemerintah dari hulu ke hilir dapat jatah. 

Tapi banyak juga membuka lapangan pekerjaan yang cukup luas bagi para preman kampung untuk menjaga parkir, juga para remaja yang banyak menjadi pramuniaga sampai stand guide kendati harus berparas menawan dan mempesona hingga memikat menggoda para konsumen           

Harusnya ada keseimbangan pertumbuhan antara pasar tradisional dan pasar modern. Ini untuk menjaga budaya berikut menyantuni masyarakat bawah yang notabene lebih banyak dibanding masyarakat atas, kemudian jangan terlalu tergoda untuk membeli produk yang dibungkus dari luar negeri untuk menjaga gengsi, tapi jika kita bisa membantu warung mbo minah, warung mpo hindun, atau memakan baso mas kumis di pinggir jalan itu lebih baik. Jika kita bersikap patriot yang tinggi hingga mencintai produk dalam negeri sendiri mungkin suatu saat warung mbo minah, mpo hindun, atau mas kumis bisa membuka cabang di belahan amerika, eropa,
asia, boleh juga di afrika sampai kutub utara. Amiiiiiiiiiin        

Diterbitkan di: on Juni 5, 2007 at 5:37 am Tinggalkan sebuah Komentar