Cemburuku pada masa lalu

Sore itu di tanah lapang terpayung lembayung

Sekelompok anak bertelanjang kaki dan dada

Menumpahkan ria dengan bola
Ada yang terkena beling,

Tersandung lawan jatuh berguling-guling 

Di sudut lain perempuan-perempuan kecil

Melompati seuntai karet hingga kakinya terkilir

Di sudut lainnya layang-layang dibentang

Menembus mega-mega jingga

Sempat juga mampir ke antena tetangga

Pada pergantian musim

Sekelompok anak masih bertelanjang kaki dan dada

Bermain dengan hujan, berkelakar dengan halilintar

Sesekali mencari untung

Dengan suara lirih menawari payung

Tumbuh bersama alam

Belajar bersama alam

Meski terbakar hitam legam

Angkatan sekarang angkatan pingitan

Angkatan sekarang angkatan karbitan

Begitu mudah korengan dan ingusan

Terjerembab bualan khayalan

Tanah lapang berubah menjadi pusat perdagangan

Memasung kreatif mendulang konsumtif

Dan kalah berkelahi dengan waktu dan zaman

Sama persis dengan mie instan

Diterbitkan di:  on Mei 24, 2007 at 1:22 am Tinggalkan sebuah Komentar

Si Butet Dari Rimba Raya

Ini bukan cerita dongeng

Tapi pantulan cermin cekung

Yang mengajak untuk merenung

Dilahirkan dari keberadaan

Dibesarkan untuk memerangi kebodohan dan kelaparan

Tasnya bukan sophie martin

Kosmetiknya bukan pula dari oriflame

Namun ia begitu megah berselendang rimbanya

Dengan keanggunan langkah

Mencoba membelah, memecah cakrawala

Di antara bukit-bukit belantara

Penghuni rimba mengenal aksara dan angka

Mereka juga akrab siapa lakon Rama dan Rahwana

Tanpa tercabut dari akar budaya

Sementara disini

Pendidikan di kriminalkan

Pendidikan di komersilkan

Orangtua mengerang kencang

Ketika anaknya tak jadi harapan

Aku berharap

Kelak anakku tidak mejadi sampah nuklir

Atau pengekor-pengekor zaman

Wahai Si Butet dari rimba raya

Turunlah ke jalan-jalan raya

Jangan takut dengan singa

Karena engkau memanusiakan manusia bukan dengan angka-angka semata

Diterbitkan di:  on Mei 2, 2007 at 10:08 am Tinggalkan sebuah Komentar

Smart is not whole thing

Kira-kira Itu yang membedakan manusia dengan hewan, dan tumbuhan. Manusia diberi akal tapi akal bukan sesuatu yang di puja-puji, karena jika hanya akal saja yang diasah, maka nurani, emosi dan mental spiritual akan mati.

Seorang yang akalnya melebihi standarisasi IQ mungkin lebih cepat menangkap rumus-rumus dan sederetan angka-angka. Tapi dengan anugerah akalnya saja tanpa diimbangi dengan nurani, emosi dan mental spritual dia bagaikan mata pisau dibelah dua, bisa menerkam orang bodoh ataupun merangkulnya. Belum tentu kekayaan begitu saja menghampirinya jika ia tidak berhati saudagar dan suratan takdirNya. 

Kelompok kedua adalah orang yang memiliki nurani dan emosi yang baik, dia mampu mengendalikan diri dan lingkungan. Lebih mampu membaca situasi dan berganti kulit untuk menyesuaikan keadaan ( emangnya bunglon ), dengan kemampuannya orang yang berada di kelompok ini bisa dengan mudah mendapatkan kekayaan materi dan inmateri bisa juga mengendalikan orang yang mempunyai akal yang mumpuni.

Yang terakhir orang yang dengan mental spiritual lebih dominan, dapat dipastikan orang tersebut lebih tenang menjalani hidup walau tidak kaya dan pintar, karena dia yakin bahwa kelak akan memanen semuanya di alam sana yang dijanjikan olehNya.

Terkadang manusia menuntut manusia untuk sempurna atau menuntut dirinya sendiri menjadi perfeksionis, tapi secara tidak sadar ia tidak melihat bahwa kemampuannya ada batas klimaksnya. Jadi jangan heran banyak dari mereka kehilangan kendali kehidupan hingga tidak tahu apa yang dimiliki sebenarnya.  

Diterbitkan di:  on at 10:07 am Tinggalkan sebuah Komentar