Macet

Sesuatu yang tidak berjalan atau bergerak dengan semestinya bisa dikarenakan volume yang dilalui terlalu banyak dibanding  ruas yang dilalui, bisa juga media yang dilalui mengalami kerusakan. Di dalam masalah printing sering ada masalah ketika seseorang mencetak sebuah file, hasilnya tidak serta merta keluar karena macet didalam mesin printer tersebut, solusi mudahnya adalah cek apakah ada kertas yang menyangkut, ada sesuatu benda yang mungkin mengganggu proses printing atau cek gir dan sensornya apakh berjalan dengan baik. Atau kita mungkin pernah mengalami resleting celana, tas, juga dompet macet karena disebabkan usangnya resleting tersebut bisa juga ketika kita menutup tidak simetris menutupnya.

Apa dampaknya ? jika masalah printing paling tidak kita tidak bisa mencetak file yang diinginkan, bisa aja numpang ngeprint di printer teman atau ke rental bisa juga menghubungi service centre yang dipercaya seperti inus ( sorry promosi ). Jika masalah resleting yang macet, mungkin kita rela kalau isi dalam dompet dan tas hilang, tapi dampaknya luar biasa jika yang macet resleting celana bagian depan.

Bagaimana dengan jalanan macet ? nah ini kesalahan orang Indonesia dalam berbahasa Indonesia, karena tidak mungkin jalan macet karena jalan tidak bergerak, yang shahih adalah pengguna jalannya baik itu karena volume kendaraan tidak berbanding lurus dengan ruas jalan atau juga karena supir angkot yang “ngetem” cari muatan, kaki lima yang tumpah ruah menjajakan dagangannya, segerombolan massa yang melakukan demo atau konvoi yang mungkin menurut mereka baik, sampai orang mengadakan hajatan pernikahan yang menggangu jalan-jalan di dalam kampungnya.

Sebenarnya ( maaf ) negara kita masih dijajah oleh gaya konsumtif dan “manjatif”, salah satunya jepang menjajah Indonesia dengan banyaknya produk automotivenya yang membanjiri jalan-jalan di kota sampai pedesaan, padahal dijepangnya sendiri pajak kendaraan sangat mahal dan banyak orang beraktivitas di luar rumah menggunakn sepeda atu jalan kaki ( kaya’ udah pernah ke jepang ajah). Seperti makan buah simalakama, kita diberi pinjaman oleh jepang tapi kita harus menyetujui produk automotivenya bebas berproduksi. Dengan mudah orang atau perusahaan dapat mengambil kendaraan dengan cara diangsur, sampai-sampai orang berkata “ah enakan ngambil motor, kemana-mana cepat” padahal yang berkata seperti itu tidak satu orang, atau perusahaan taksi yang mendapatkan angsuran ringan untuk mengambil sebuah sedan mewah dari produsen-produsen jepang. Akibatnya banyak supir angkot yang mengeluh karena dulu penumpangnya yang setia naik angkot kini punya motor sendiri, dan si penumpang yang terjebak di dalam angkot pada terserang kantuk berat karena berebut mendapatkan oksigen yang bersih dengan penumpang lain sementara angkot tidak kunjung bergerak dan oksigen semakin kotor dengan banyaknya yang mengkonsumsi BBM, padahal BBM adalah sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui.

Selain itu karena banyaknya pencari kerja dibanding lapangan kerja serta mahalnya menyewa kios untuk usaha, maka banyak orang yang dengan nikmat menggelar jajakannya di jalanan, padahal menggangu pengguna jalan lainnya dan pedagang kaki lima tersebut sementara mereka mengklaim sudah membayar upeti-upeti ke aparat nakal dan preman pasar.

Lain halnya dengan berdemo yang menurut mereka menyuarakan hak-hak kebenaran tetapi mengorbankan hak-hak pengguna jalan yang lain, mungkin dari para korban tersebut menggerutu sampai terlambat datang di tempat kerja atau menurunnya setoran

Untuk masalah hajatan pernikahan saya tidak ingin meluaskan sebab saya belum menikah. Yang pasti lebih baik singkirkan duri di jalan dari pada membiarkan polisi tidur di jalan (hehehe)

Diterbitkan di: on April 27, 2007 at 2:00 am Tinggalkan sebuah Komentar

Cintaku Mati Suri

Cintaku mati suri

Yang di usung oleh keranda kekhilafan dan kesabaran

Menuju taman peristirahatan 

Bilakah ada yang hendak membangunkan

Entah kemana ia akan bergentayanyan

Aku tidak tahu

Siapa yang melepaskan kain kafan

Dan menghilangkan bau kemenyan

Hingga tidak menjadi hantu menakutkan

Mungkin

Ruh-ruhku berjalan ke pasar, sawah, mushalla

Atau ke warung dombret sembari menikmati kopi pantura

Mencari jiwa-jiwa yang menyentuh cintaku yang mati suri

Diterbitkan di: on April 19, 2007 at 1:06 am Tinggalkan sebuah Komentar

Bacalah dan terus membaca

Bacalah…

Ketika segerombolan heina

Merampas buruan macan betina

Juga beruang madu menangkap tuna

Bacalah…

Bahwa wanita tercipta dari tulang sulbi

Karena dari mereka tidak ada yang menjadi Nabi

Bacalah…

Bumi dan langit dihamparkan untuk kehidupan

Sementara ada yang pergi ke negeri di awan

Dengan pengetahuan, ketakutan dan khayalan

Bacalah…

Bagaimana ketika kita terkesima

Oleh tukul arwana

Bacalah…

Ejawantahlah…

Jangan lantas ditutup

Menjadi lembaran-lembaran yang termaktub 

Aku pun masih terus membaca

Dan akan berhenti jika mata, telinga dan hati tak berdaya

Jangan kau paksa membaca penggalan sajak ini

Karena bukan kitab suci

Yang keluar dari hati yang fithri

Diterbitkan di: on April 18, 2007 at 7:58 am Tinggalkan sebuah Komentar

Kontrak Kerja

Dewasa ini banyak dari pelbagai kalangan membicarakan masalah ini, secara garis besar hanya ada tiga kalangan yang berkecimpung di dalamnya, yaitu pekerja, pengusaha, dan pemerintah. Kebanyakan dari mereka menganggap masalah ini sebagai momok yang menakutkan, kenapa begitu ? bagi pekerja jika ia tidak kunjung mendapatkan status permanent di tempatnya bekerja maka ia akan gusar, khawatir, dan segala macam ketakutan dari ancaman kehilangan penghasilan padahal sudah berusaha mengeluarkan segenap kemampuan, bagi pengusaha masalah ini relative dimudahkan karena pengusaha yang mempunyai modal penuh yang pada akhirnyadapat menentukan apa yang ia kehendaki untuk menjalankan roda usahanya. Sedangkan pemerintah hanya sebagai fasilitator yang membuat regulasi-regulasi dimana tujuannya supaya denyut-denyut nadi perkenomian dan pembangunan mengalami kemajuan, mungkin juga sebagai kendaraan politik

Begitu menyaksikan beberapa tahun lalu IPTN ( Industri Pesawat Terbang Nasional ) di bandung berhasil menciptakan pesawat N 250, dengan waktu yang bersamaan masyarakat menaruh harapan besar, tapi selang beberapa tahun terjadi PHK dimana saat itu kurang lebih 8000 ribu pekerja akan dirumahkan, saya berfikir industri yang didalamnya terdapat banyak orang-orang pintar mengalami kegoncangan hebat apalagi dengan industri-industri lainnya seperti industri textile, industri pertanian, industri automotive dan sebagainya. Saya terhenyak ketika ribuan pekerja merapat barisan untuk menuntut kelangsungan hidup, sampai ke Jakarta mereka tetap meminta haknya kepada pemerintah. Namun salah satu dari mereka ada yang tidak menggebu menuntut ini-itu, beliau dengan asyik berjualan soto ayam di emperan kaki lima untuk menjauhkan ketakutan akan hidup, padahal beliau lulusan ITB dan lulusan dari luar negeri dengan jurusan teknik mesin pesawat terbang.

Sewajarnya kita hidup secara wajar, kadang diatas kadang dibawah atau dibawah terus atau diatas terus, kalau saja boleh mengambil hikmah dari industri sepak bola di negara-negara maju seperti Inggris, Spanyol, Jerman, atau Italia. Semua para pemain bola sampai pelatihnya tidak akan menjadi karyawan tetap di klubnya. Ketika sudah dimakan usia ketangkasannya di lapangan tidak lagi terlihat hebat, padahal ketika masa emasnya mendapat gaji tinggi, fasilitas yang memadai tapi mereka tidak lupa investasi.

Itulah fenomena kehidupan sebagai pekerja, harus nrimo bahwa kita dibayar oleh si pemilik uang, jangan lantas berteriak ketika gaji tidak sesuai dengan kebutuhan membeli minyak tanah, membayar uang kontrakan atau sekedar membelikan sepatu anak untuk sekolah yang telah usang. Berbicaralah dengan baik dan indah kepadanya atau kita balik bertanya apa yang sudah kita persembahkan kepadanya hingga ia rela memberi upah, jika tidak lagi sabar, sebaiknya kita keluar mencari pekerjaan lain seperti berjualan nasi uduk, bahkan mengojek sekalipun yang mungkin dapat menentramkan jiwa dan keluarga.

Diterbitkan di: on April 13, 2007 at 1:50 am Tinggalkan sebuah Komentar