Syukur

Dengan kreasi dan kemauanNya tidak ada batas yang membatasi

Sesuatu gerak, wujud, bahkan tak terduga

Rahasia indah terkandung di belakang mungkin di permukaan

Bagi kejernihan-kejernihan pandangan

 

Jangan bangga dengan kamuflase murahan

atau bibir mengeluh,mengerang sampai meraung dengan keterbatasan

 

Jika hanya bisa bertemu mantri, kubur dalam mimpi ke Siloam Gleneagles atau diatasnya

Jika harapan dapat ditaruh di celengan semar, buat apa menimbun kartu kartu hutang di dalam dompet

 

Tidak ada larangan menjelajah ruang angkasa, meramu uranium-uranium, atau mengayuh pit dan memecah batu

Bagaimanapun

Sisakan waktu bagi sepasang tangan, kaki, mata, bibir serta rambut, perut dan semuanya untuk mengenal kepadaNya

 

Terkadang saya mendongak dan terbelalak

Menatap para kampiun-kampiun

Namun ketika merunduk malu-malu

Saya bersyukur masih berada disini

 

Diterbitkan di: on Februari 14, 2007 at 11:10 am Tinggalkan sebuah Komentar

 

RISALAH KUBUR

Semua makhluk bernyawa pasti mati mulai dari manusia, kucing hutan, ayam bekisar, ular sanca, burung parkit, tak terkecuali benalu dan gulma-gulma. Cara matinya juga beraneka rupa ada yang tenggelam dilaut, tertabrak motor, bencana alam, kelaparan dan masih banyak untuk disebutkan. Semuanya itu bagi manusia khususnya pasti akan dikebumikan atau dibakar lalu abunya dibuang ke laut atau ditaruh di rumah abu

Umumnya manusia jika meninggal akan dikebumikan, sebagian membangun pusaranya dengan nisan dan marmer yang mahal, diberi pagar atau tembok yang megah, bahkan raja-raja di mesir kuno dikubur di dalam piramida atau spinx yang didalamnya bagaikan dunia bawah tanah yang dapat dijadikan objek wisata. Namun ada juga yang dikubur secara sederhana hanya dengan gundukan tanah, atau di goa-goa.

Prosesinya juga berwarna-warni. Ala militer ada, biasanya orang yang dianggap pahlawan padahal belum tentu pahlawan ( biasa buang-buang amunisi, lebih baik dananya untuk gaji bintara dan tamtama ). Ada juga yang berlangsung secara protokoler hingga wartawan-wartawati turut diundang dan menyita perhatian orang untuk ditonton secara langsung, namun ada pula yang sangat sederhana karena tidak ada dana atau karena ajaran agama sebagai alasannya.

Di Negeri ini khususnya di perkotaan, orang meninggal hampir sama dengan nonton bioskop atau naik kereta api, boleh milih kelas VIP/eksekutif, bisnis, atau ekonomi padahal sama-sama mayit dan satu TPU. Kalau memilih VIP/Eksekutif letaknya dekat lobby utama TPU dengan ruas jalan yang lebar, penerangan yang artistic, type kuburannya terhitung elite, dan terlihat asri. Jika kelas menengah sedikit berbeda dengan VIP/eksekutif dalam hal registrasi, administrasi, dan daftar ulangnya, sehingga fasilitas dan typenya tidak terlalu jauh signifikan. Bagi kalangan yang terpinggir mendapat kelas ekonomi yang ditemani oleh ilalang, lumut dan jamur subur berkembang biak disekitar pusara sampai serangga-serangga asyik bermain di areal pekuburan karena merasa nyaman tidak tidak diganngu oleh penggali kubur, pendekar kebersihan dan aparatur yang mestinya mengabdi pada masyarakat.

Apakah sulit untuk bertemu Tuhan? sehingga begitu banyak prosesi yang seremonia belaka. Ataukah mahal berjumpa Tuhan? sehingga sebagian orang mengenakan jam tangan Rolex, Jas dan kemeja Dunhill, serta sepatu pakalolo, padahal dosa yang dibawa sebanyak bulir-bulir pasir di pesisir dan kebajikannya hanya selembut kapas

Zaman dahulu ketika orang- orang shalih wafat ( yang mengikuti secara sempurna risalah Nabi Nuh ) generasi berikutnya banyak yang menjadikan kuburan orang-orang shalih tersebut sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, kejadian itu terus berlangsung hingga kini, namun ada sedikit pergeseran makna. Saat ini orang kekuburan untuk pesugihan, mencari ilmu ( anak SD juga tahu kalau cari ilmu ke sekolah bukan ke kuburan hahaha), bahkan mencari nomor togel sampai memotong ayam putih/hitam ( sebagai sesaji ) dan berbagai macam ritual manusia yang jauh dari penciptaNya.

Dalam sebuah acara televisi secara tidak sengaja saya melihat profile Akri ( Anggota pelawak Ngelaba ) dari dekat, beliau membeli sebiadng tanah untuk dijadikan TPU ( Tempat Pemakaman Umum ) secara gratis untuk semua kalangan terutama orang pinggiran. Daripada pengusaha-pengusaha muslim berlomba membangun sekolah islam yang sangat tidak terjangkau atau membangun masjid yang megah yang hampir menyerupai istana raja atau pemerintah yang menyulap sawah menjadi Mall, Industri dan Apartemen, lebih baik kita ikuti seperti artis yang satu ini

Jika mau melihat lebih dalam, harusnya kita ingat bahwa kematian akan menjemput kapan saja, dimana saja dan siapa saja. Bahkan saya sendiri tidak tahu apakah episode kehidupan saya akan berakhir manis atau berakhir diujung botol bersama pelukan gadis remang-remang.

Diterbitkan di: on Februari 4, 2007 at 3:00 pm Tinggalkan sebuah Komentar