Warna

Sejak saya SD mengenal warna dasar yaitu merah, biru, dan hijau. Merah disilangkan dengan biru melahirkan ungu, jika dengan hijau melahirkan kuning, sedangkan biru disilangkan dengan hijausaya lupa melahirkan apa, jika ketiganya disilangkan melahirkan putih. dan sebenarnya masih banyak lagi spektrum-spektrum warna yang digagas pertama kali oleh sir isaac newton.

Namun sebagian orang mengartikan warna sebagai identitas,
gaya hidup, kepribadian dan lain-lain. Padahal warna sendiri bukan agama, bukan idola, bahkan bukan pencuri. Yang terpenting tidak melanggar aturanNya.

Di Indonesia warna hitam menjadi sesuatu yang diagungkan, kenapa bisa begitu? contoh dari SD sampai Kuliah bahkan sesuatu yang dibungkus formalitas harus menulis dengan tinta hitam, atau jika seseorang ingin membeli mobi hitam harganya lebih mahal jika dibanding dengan warna lain dan mesti menunggu antrian, bahkan sebagian pengendara motor menguliti sticker dari pabrik sampai semua berwarna hitam, lebih parah lagi ke makam harus berpakaian hitam, sampai-sampai dahulu ada rencana sepatu anak SD di Indonesia diseragamkan.

Harus di dobrak dan dirobohkan kesepakatan kesepakatan diatas. Teman saya menyarankan bahwa jangan terpaku pada satu warna, contoh pakailah sepatu berwarna merah, tembok rumah warna ungu atau orange dan sebagainya, yang penting tidak terbersit dalam benak ingin tampil beda atau cari perhatian. 

Diterbitkan di: on Januari 18, 2007 at 9:14 am Tinggalkan sebuah Komentar

Antara Ilmuku,IlmuMu dan IlmuNya

 

Awalnya Aku miskin. Orangtua, pepohonan, binatang, sawah, gunung, Kamu, dan Dia membantu Aku untuk maju . Begitu juga Kamu.

Lama kelamaan Aku kenal Kamu dan Dia, Aku biasa melakukan sesuatu yang baru karena Kamu dan Dia mengajari Aku. Begitu Juga Kamu

DikepalaKu abstrak dan pasti mendapat porsi seimbang, di kepalaMu mungkin salah satunya mendapat porsi berlebih. Aku tidak tertarik dengan abstrak tapi sebagian Aku percaya. Aku suka kepastian tapi tidak semuanya Aku aminkan.

Itu sebabnya ada ilmuwan dari jazirah mengatakan semakin ke barat orang cenderung menimbang dan memutuskan dengan pasti, sebaliknya semakin ke timur orang cenderung menimbang dan memutuskan dengan abstrak.

Semakin pekat abstrak di kepalaKu atau kepalaMu kita semakin miskin dan bodoh, semakin pekat kepastian di kepalaKu atau kepalaMu kita semakin maju dan sombong.

Ahli abstrak dan ahli pasti merunduklah, karena pamermu adalah auratmu. Kelakarmu hanya menebarkan kabut kabut. Akibatnya Aku, Kamu dan semuanya menjadi pendengar dongeng dongeng yang tidak tahu dimana seharusnya berpegangan

Jika ilmuKu dan ilmuMu bersatu tetap tak dapat menggulingkan ilmuNya, meski kekuatan abstrak dan pasti bahu membahu akan sia-sia.

Dia menggenggam kepalaKu dan kepalaMu dalamnya samudera indahnya gugusan bintang, hangatnya pelita dan semua isi jagat raya tak pelak dalam naunganNya.

Pasukan serangga, bergoyangnya padangilalang, rimbun pohon di hutan serta ranumnya buah menyerah pasrah ketika mengingat keagunganDia. Sangat kontras ketika manusia dengan langkah merapuh dan pikiran keruh berlagak bak gladiator saling berebut untuk mengusai yang tidak mungkin di kuasai, atau bak einsten einsten muda yang menciptakan sederetan rumus dan formula yang tidak mungkin dapat dipecahkan.

Pada akhirnya dengan ilmuKu aku melelehkan air mata, bulu roma tak kuasa menahan kehebatan ilmuNya, berharap kamu juga.

Jari jemariKu dan seluruh panca inderaKu tak sanggup membayangkan, melukiskan dan menterjemahkan semua ilmuNya, berharap kamu juga.

Diterbitkan di: on Januari 9, 2007 at 1:38 pm Komentar (1)