
Dewasa ini banyak orang menggunakan akal dan perasaannya untuk menjalani perintahNya atau meninggalkan laranganNya, apakah agama seperti sebuah hidangan prasmanan? Syariat yang sesuai dengan akal dan perasaanya saja yang di jalani, sedangkan yang tidak sesuai dengan akal, perasaan, mode, HAM dan beribu alasan lainnya untuk menolak syaria’atNya. Islam sangat menghormati akal, hal ini dapat dilihat dari :
1) Islam menganjurkan akal untuk berfikir dan menerima sebuah keyakinan dengan kepuasan akal
Pertama : islam mengarahkan akal untuk berfikir dan mengamati, lihat (Shad:29) dan lihat juga ( Muhammad:24)
Kedua : islam mengarahkan akal untuk memikirkan makhluk-makhluk Allah, lihat (Ali Imran: 191) dan lihat juga (ArRum:8)
Ketiga : Islam mengarahkan akal untuk memikirkan syari’at-syari’at Allah, lihat (AlBaqarah:179) dan (AlJumu’ah:9) serta (AlA’raf:26)
Keempat : Akal manusia diarahkan untuk mengamati keadaan umat-umat terdahulu serta akibat dari perbuatan mereka, lihat (AlAn’am:6) dan (AlAn’am:11)
2} Islam tidak memaksakan kehendak
Islam memberikan kebebasan pada akal manusia untuk mencermati kebenaran yang datang dari Allah dan RasulNya, apakah kita mau memilih perintahNya atau tidak.
Lihat (AlBaqarah:256) dan (AlKahfi:29)
3) Islam mencela orang-orang yang taqlid
Orang yang taqlid buta ialah orang yang tidak menggunakan akalnya dalam menerima dan menolak sesuatu yang telah disyari’atkan Allah, biasanya mereka mengikuti saja adat istiadat, perkembangan zaman, nenek moyang, atau kata si fulan ( katanya dan katanya ) tanpa merujuk kepada dalil yang tegas dari Alqur’an dan Hadits, lihat (AlBaqarah:170) dan (AlIsra’:36) serta (Alhujurat:6)
4) Islam memerintahkan utuk belajar
Sebagaimana fisik berkembang dengan makanan, maka akal pun bisa berkembang dengan ilmu yang nantinya bisa menjadi dasar kemantapan keimanan, karena iman tanpa ilmu akan menjadi taqlid buta, lihat (Muhammad:19) dan (AlMujadilah:11)
5) Perintah menjaga akal dan larang merusaknya
Dari sinilah islam melarang minum khamer agar akal manusia tetap sehat dan terjaga, lihat (AlMaidah:90) dan hadits dari ibnu umar berkata : Rasulullah bersabda : Setiap yang memabukkan adalah khamer, dan setiap yang memabukkan haram (HR Bukhari, dan Muslim)
Alangkah bodoh dan sombongnnya manusia jika menolak apa yang diperintahkanNya dan menjalani apa yang di larangNya hanya dengan akal dan pikirannya saja, padahal Allah telah memberikan anugerah kepada manusia berupa akal sebagai sarana untuk mengetahui, memahami, dan menjalani apa yang telah disyariatkanNya, bagaimana kalau akal tersebut sakit? atau tidak digunakan sebagaimana fungsinya? atau sama sekali sekali manusia tidak diberi akal? mungkin sama dengan binatang, coba lihat (AlA’Raaf:179)
Berikut ini sebagian hadits Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang perlu kita cermat
1) Dari Ali bin Abu Thalib berkata : “Andaikata agama ini cukup dengan akal, maka bagian bawah sepatu lebih berhak diusap daripada atasnya, padahal aku melihat rasulullah mengusap bagian atas sepatu ( Abu dawud 162, Ahmad 615, Ad Darimi)
2) Dari Umar bin Khattab saat dia mencium hajar aswad berkata: “ Sesungguhnya saya mengetahui engkau hanyalah sebongkah batu yang tidak memberi madharat dan manfaat. Kalau seandainya bukan karena saya melihat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam maka saya tidak akan menciummu ( Bukhari 1597, Muslim 1270)
Dari keterangan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa jika syari’at telah menetapkan sesuatu maka jangan menggunakan akal atau perasaan untuk menimbang nimbang syari’at. Kemudian Ali bin Abu Thalib dan Umar bin Khattab (shahabat rasulullah) yang keduanya dijamin masuk surga Allah, tidak berani membantah dengan akal maupun perasaan untuk menjalani suatu syari’at, apalagi kita yang belum mendapat jaminan masuk surga, serta wajibnya kita mengikuti para shahabat rasulullah didalam beragama dikarenakan mereka lebih paham dan mengetahui apa yang diajarkan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam.
